Pemerintah menilai industri tekstil nasional masih memiliki prospek yang besar dan tidak semestinya dikategorikan sebagai industri yang telah memasuki masa senja. Penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir dinilai menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing industri tekstil Indonesia di pasar global.

Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi mengatakan, perkembangan industri tekstil terus berlangsung, terutama dari sisi komponen dan produk yang dihasilkan. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan karena sebagian kebutuhan bahan baku masih bergantung pada negara lain.

"Tekstil tuh sekarang juga makin hari makin berkembang kan komponennya. Tapi yang paling penting bagi Indonesia itu supply chainnya harus lengkap, dari tingkat bahan baku sampai akhir, karena kalau bahan bakunya sendiri masih tergantung negara lain, volatilitasnya akan kita absorb nanti di dalam produk kita," kata Edi saat ditemui wartawan di kantornya, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat membuat industri dalam negeri lebih rentan terhadap perubahan harga dan kondisi perdagangan global. Karena itu, pemerintah mendorong terbentuknya rantai pasok tekstil yang lebih lengkap dengan meningkatkan kapasitas produksi bahan baku di dalam negeri.

Edi menegaskan industri tekstil tidak seharusnya dipandang sebagai sunset industry. Dengan modernisasi dan pembenahan struktur industri, sektor tersebut justru dinilai memiliki peluang untuk berkembang lebih besar di masa mendatang.

"Supaya lebih kompetitif kita juga harus membangun supply chainnya lengkap, karena tekstil jangan dianggap lagi sebagai sunset industry, justru ke depan punya potensi besar, hanya tinggal bagaimana supaya lebih modern seperti apa," ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu fokus penting yang perlu diperkuat adalah sektor hulu, khususnya penyediaan bahan baku. Jika kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi lebih banyak dari dalam negeri, industri tekstil Indonesia akan memiliki ketahanan yang lebih baik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap negara pemasok tertentu.

"Terpenting adalah mengisi supply chainnya supaya lengkap, karena di raw material ini kita masih bergantung ke negara lain. Kalau bisa kita tarik ke dalam negeri, kita jadi enggak selalu bergantung ke satu negara," kata Edi.

Dorongan untuk memperkuat industri tekstil tersebut muncul di tengah mulai terlihatnya pemulihan kinerja ekspor sektor tersebut. Berdasarkan neraca perdagangan Juli 2026, nilai ekspor industri tekstil mencapai US$329,20 juta atau sekitar Rp5,83 triliun dengan asumsi kurs US$1 sebesar Rp17.710.

Nilai tersebut meningkat 11,99% dibandingkan ekspor pada Juni 2026 yang tercatat sebesar US$293,97 juta. Jika dibandingkan dengan Juli 2025 yang berada di level US$289,08 juta, ekspor industri tekstil juga tumbuh 13,88%.

Kinerja tersebut menjadi salah satu sinyal positif bagi industri tekstil nasional yang dalam beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan akibat berbagai dinamika pasar. Pada Maret 2026, nilai ekspor industri tekstil bahkan sempat berada di level US$232,01 juta.

Setelah mencapai titik tersebut, kinerja ekspor mulai menunjukkan perbaikan. Pada April 2026, ekspor meningkat menjadi US$290,65 juta, sebelum turun menjadi US$278,23 juta pada Mei. Tren positif kembali terlihat pada Juni dengan nilai ekspor US$293,97 juta dan berlanjut pada Juli hingga mencapai US$329,20 juta.

Kenaikan tersebut menunjukkan adanya peluang pemulihan bagi industri tekstil nasional. Namun, pemerintah menilai penguatan kinerja ekspor perlu diiringi dengan pembenahan fundamental industri, terutama melalui pembangunan rantai pasok yang terintegrasi, modern, dan semakin banyak bertumpu pada sumber daya domestik.

Dengan penguatan sektor hulu hingga hilir, industri tekstil diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga meningkatkan daya saing produk Indonesia dalam menghadapi persaingan industri tekstil global.