Langkah strategis pemerintah di Korea Selatan, Tiongkok, dan Amerika Serikat dalam menggulirkan stimulus ekonomi mulai membuahkan hasil nyata pada sektor ritel pakaian. Berdasarkan laporan terbaru, penjualan ritel pakaian di ketiga negara tersebut berhasil mempertahankan pertumbuhan positif secara tahunan (year-on-year). Fenomena ini, ditambah dengan menipisnya stok inventaris global, memicu optimisme analis bahwa harga saham perusahaan tekstil dan pakaian yang sempat menyentuh level terendah kini siap untuk bangkit kembali.

Tahun 2025 menjadi babak yang penuh gejolak sekaligus transformasi bagi industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia. Di tengah bayang-bayang deindustrialisasi, muncul titik terang dari adopsi teknologi hijau dan penandatanganan perjanjian dagang IEU-CEPA. Dari pailitnya raksasa industri hingga perlawanan terhadap gempuran barang impor, berikut adalah rangkuman 7 berita terpopuler yang membentuk wajah industri tekstil dan garmen Indonesia di sepanjang tahun 2025.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah ekonomi, surplus perdagangan Tiongkok telah menembus angka $1 triliun dalam sebelas bulan pertama tahun 2025. Pencapaian ini bukan sekadar kemenangan angka bagi Beijing; ini adalah sinyal mendalam mengenai pergeseran struktural ekonomi global yang meningkatkan ketegangan dari Washington hingga Brussel. Rekor surplus yang naik 3,6 persen secara tahunan ini mengungkap narasi kompleks tentang sebuah negara yang telah menguasai produksi teknologi tinggi, namun di saat yang sama berjuang meyakinkan rakyatnya sendiri untuk berbelanja.

Menjelang tahun 2026, industri kapas global berada di persimpangan jalan yang kontradiktif. Di satu sisi, stabilitas harga kapas yang rendah menjadi "angin segar" bagi para peritel dan produsen pakaian garmen. Namun di sisi lain, kondisi ini menciptakan tekanan finansial yang berat bagi para petani di hulu. Analisis mendalam terhadap sektor ini menunjukkan bahwa meskipun permintaan konsumen terhadap serat alami tetap tinggi, rantai pasok kapas sedang bertarung melawan inflasi biaya produksi, pergeseran geopolitik, dan volatilitas cuaca.