Industri garmen Turkiye kembali mengawali tahun dengan catatan merah yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru dari Institut Statistik Turkiye dan Kementerian Perdagangan, ekspor pakaian jadi negara tersebut mengalami penurunan sebesar 2,88 persen pada periode Januari–Februari 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ekspor yang hanya mencapai US$2,599 miliar ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan ekonomi di pasar utama, khususnya Uni Eropa, belum mereda. Sebagai destinasi yang menyerap hampir 70 persen total pengiriman, ketergantungan besar Turkiye pada Eropa kini menjadi pedang bermata dua di tengah melambatnya konsumsi masyarakat di benua biru tersebut.
Penurunan ini terlihat jelas pada berbagai kategori produk. Ekspor pakaian rajutan (HS 61) terkoreksi tipis 1,6 persen menjadi US1,473 miliar, sementara sektor pakaian tenun dan aksesori (HS62) mengalami hantaman lebih keras dengan penurunan sebesar 4,6 persen menjadi US1,126 miliar. Pelemahan yang lebih tajam pada segmen pakaian formal dan terstruktur ini menunjukkan bahwa konsumen global cenderung membatasi pengeluaran untuk produk fesyen non-kasual. Memasuki bulan Februari, meskipun ada sedikit angin segar dengan kenaikan tipis 0,2 persen pada sektor pakaian rajut, tren keseluruhan tetap menunjukkan kontraksi tahunan yang sulit dibendung.
Ironisnya, tantangan terbesar Turkiye justru datang dari dalam negeri. Meski negara ini diunggulkan oleh kedekatan geografis dengan Eropa, waktu pengiriman yang singkat, dan rantai nilai tekstil yang terintegrasi secara vertikal, daya saing biayanya terus tergerus. Inflasi yang melambung tinggi, kenaikan upah buruh yang signifikan, dan volatilitas mata uang Lira telah membuat harga produk garmen Turkiye menjadi kurang kompetitif dibandingkan pemasok dari Asia. Situasi ini kian pelik mengingat ekspor garmen Turkiye telah berada dalam tren penurunan selama tiga tahun berturut-turut sejak 2023, yang menandakan adanya tantangan struktural yang mendalam, bukan sekadar fluktuasi pasar sesaat.
Seorang pengamat industri dalam laporan perdagangan bulan ini menyoroti bahwa Turkiye kini berada di persimpangan jalan yang krusial. Keunggulan logistik saja tidak lagi cukup untuk menahan migrasi pembeli ke pasar yang lebih murah jika struktur biaya internal tidak segera distabilkan. Namun, di tengah gempuran impor global, sektor tekstil tetap menjadi tulang punggung yang berorientasi ekspor bagi ekonomi Turkiye, terbukti dengan absennya kategori tekstil dalam daftar komoditas impor utama negara tersebut. Tanpa adanya kebijakan strategis untuk meredam inflasi dan meningkatkan nilai tambah produk, industri kebanggaan Turkiye ini terancam terus kehilangan taji di pasar internasional yang kian kompetitif.