Eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) mulai menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor ekonomi global, termasuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia. Pelaku usaha kini memutar otak untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan bahan baku hingga lonjakan biaya logistik akibat memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan bahwa risiko paling nyata berada pada pasokan Monoetilen Glikol (MEG), bahan baku utama pembuatan serat poliester. Saat ini sekitar 85% kebutuhan MEG Indonesia masih bergantung pada impor dari kawasan Timur Tengah, sehingga setiap gangguan distribusi di wilayah tersebut berpotensi langsung memukul industri dalam negeri.

Menurut Redma, stok MEG di dalam negeri saat ini masih relatif aman untuk kebutuhan lebih dari dua bulan. Namun, jika konflik berlangsung lama, kenaikan harga dinilai hampir tak terelakkan karena pasokan global akan terhambat. Kenaikan harga juga dipengaruhi faktor lain, seperti berkurangnya pasokan crude oil China dari Venezuela serta potensi terganggunya pasokan gas dari Iran, yang pada akhirnya mendorong naiknya harga bahan baku berbasis energi.

Sebagai langkah mitigasi, pelaku industri mulai mengalihkan sebagian impor MEG ke Malaysia. Selama ini harga pasokan dari Timur Tengah memang lebih kompetitif dibanding Malaysia, namun selisihnya tidak terlalu signifikan sehingga pengalihan sumber dinilai masih realistis. Apalagi, Malaysia sebelumnya juga telah menjadi salah satu pemasok, meskipun dalam volume yang lebih kecil.

Dari sisi kapasitas, Malaysia dinilai mampu menopang kebutuhan Indonesia, terutama karena utilisasi industri domestik masih berada di kisaran 50%. Dengan kapasitas polimer nasional sebesar 1,7 juta ton per tahun, kebutuhan MEG saat beroperasi penuh bisa mencapai 700 ribu ton per tahun. Namun dalam kondisi utilisasi saat ini, konsumsi hanya sekitar 350 ribu ton per tahun. Sementara itu, kapasitas produksi MEG Malaysia sekitar 740 ribu ton dengan konsumsi domestik sekitar 250 ribu ton, sehingga secara hitungan teknis masih terdapat ruang suplai untuk Indonesia.

Alternatif pasokan di luar Timur Tengah dan Malaysia disebut sangat terbatas. Opsi lain adalah mendorong produksi dalam negeri, yang memiliki kapasitas sekitar 300 ribu ton per tahun. Namun realisasinya saat ini baru berjalan sekitar 50 ribu ton dan dari sisi harga masih kurang kompetitif karena berbasis bahan bakar minyak (fuel base), berbeda dengan impor yang umumnya berbasis gas (gas base) sehingga lebih murah.

Untuk bahan baku utama lainnya seperti Purified Terephthalic Acid (PTA), kondisi relatif lebih aman karena sekitar 95% kebutuhan sudah dipenuhi dari dalam negeri. Meski demikian, tekanan industri tidak hanya datang dari sisi bahan baku.

Konflik di Timur Tengah juga berdampak pada jalur perdagangan internasional yang berpotensi meningkatkan biaya logistik, mulai dari premi asuransi hingga waktu pengiriman yang lebih panjang. Ekspor ke Eropa menjadi yang paling rentan terdampak akibat gangguan jalur pelayaran dan kenaikan ongkos kirim. Saat ini sekitar 30% ekspor TPT Indonesia mengalir ke pasar Eropa dan 40% ke Amerika Serikat. Ketergantungan besar pada dua pasar tersebut membuat industri menghadapi risiko tekanan ganda, terutama karena pasar AS juga masih dibayangi kebijakan tarif resiprokal.

Di sisi lain, impor benang dan kain Indonesia yang sekitar 90% berasal dari China diperkirakan tidak terlalu terdampak langsung oleh konflik Timur Tengah. Namun secara keseluruhan, kenaikan biaya logistik global tetap akan memberi efek lanjutan terhadap struktur biaya industri.

Melihat situasi tersebut, pelaku industri menilai diperlukan kebijakan pemerintah untuk memperkuat penguasaan pasar domestik, yang saat ini sekitar 60% masih dikuasai produk impor. Dengan hampir 70% ekspor TPT bergantung pada Eropa dan Amerika Serikat, tekanan simultan dari dua pasar utama ini berpotensi mengganggu kinerja ekosistem industri secara menyeluruh jika tidak diantisipasi sejak dini.