Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada sektor energi dan keuangan, tetapi juga berpotensi menekan industri manufaktur padat energi, termasuk tekstil, melalui kenaikan harga minyak dan gangguan rantai pasok internasional.

Menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz—jalur strategis yang sangat rentan terhadap ketegangan militer. Setiap eskalasi di kawasan tersebut berisiko mengganggu distribusi energi global dan memicu lonjakan harga minyak mentah. Dalam berbagai krisis geopolitik sebelumnya, harga minyak tercatat mampu melonjak dua digit hanya dalam waktu singkat.

Laporan World Bank melalui Commodity Markets Outlook menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10% dapat meningkatkan biaya produksi sektor manufaktur sekitar 2–4%, tergantung intensitas penggunaan energi. Bagi industri tekstil, dampaknya relatif lebih besar karena proses produksi—mulai dari spinning, weaving, dyeing, hingga finishing—sangat bergantung pada energi. Selain itu, bahan baku seperti polyester dan nylon berasal dari turunan petrokimia yang sensitif terhadap fluktuasi harga minyak.

Berdasarkan simulasi industri, apabila harga minyak naik dari kisaran USD 70 menjadi USD 100 per barel, biaya energi pabrik tekstil dapat meningkat hingga 20–25%. Secara keseluruhan, total biaya produksi berpotensi naik sekitar 15% atau bahkan lebih, terutama bagi perusahaan yang belum menerapkan efisiensi energi secara optimal.

Tekanan tidak berhenti pada aspek energi. Gangguan geopolitik juga berisiko meningkatkan biaya logistik global. Data World Trade Organization menunjukkan bahwa gangguan di jalur perdagangan utama dapat menaikkan ongkos pengiriman laut sebesar 10–20% akibat kenaikan premi asuransi dan pengalihan rute kapal. Dalam industri tekstil yang sangat terintegrasi secara global, bahan baku, benang, kain, hingga produk jadi kerap melibatkan beberapa negara dalam satu siklus produksi. Keterlambatan distribusi hingga 10–15 hari dapat meningkatkan biaya persediaan dan menekan arus kas perusahaan.

Bagi Indonesia, risiko ini menjadi perhatian serius. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional menyerap lebih dari 3 juta tenaga kerja dan mencatatkan nilai ekspor di kisaran USD 12–13 miliar per tahun. Namun, ketergantungan terhadap bahan baku impor serta energi membuat sektor ini rentan terhadap gejolak eksternal. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa fluktuasi harga energi global dan nilai tukar rupiah berpengaruh langsung terhadap biaya produksi manufaktur.

Jika konflik memicu lonjakan harga minyak sekaligus melemahkan nilai tukar, maka industri akan menghadapi tekanan ganda: kenaikan biaya energi dan mahalnya bahan baku impor. Kondisi ini berpotensi menekan margin keuntungan, terutama bagi pabrik skala menengah dan kecil yang memiliki ruang efisiensi terbatas.

Dari sisi makroekonomi, laporan International Monetary Fund dalam World Economic Outlook menegaskan bahwa ketegangan geopolitik global dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi melalui jalur inflasi energi dan gangguan perdagangan. Di Indonesia, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB). Jika harga tekstil naik akibat peningkatan biaya produksi, daya beli masyarakat berpotensi tertekan, yang pada akhirnya memengaruhi permintaan domestik.

Bagi pelaku dan pekerja industri tekstil, dampak konflik bukan sekadar angka statistik. Lonjakan biaya produksi dapat memengaruhi efisiensi operasional, jam kerja, hingga stabilitas tenaga kerja apabila tekanan berlangsung dalam jangka panjang.

Dalam situasi ini, penguatan efisiensi energi, diversifikasi sumber bahan baku, serta stabilisasi kebijakan energi domestik menjadi langkah strategis untuk menjaga daya saing industri. Transformasi menuju produksi yang lebih hemat energi dan bernilai tambah tinggi juga menjadi kebutuhan mendesak agar sektor tekstil nasional tetap resilien di tengah ketidakpastian global.

Konflik geopolitik memang terjadi jauh dari Indonesia, tetapi efeknya menjalar hingga ke lini produksi pabrik tekstil. Stabilitas energi dunia kini menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan industri dan perlindungan jutaan lapangan kerja di dalam negeri.