Gelaran Denpasar Fashion Street (DFS) 2026 kembali menjadi panggung kreativitas bagi para desainer lokal sekaligus sarana kampanye fesyen ramah lingkungan. Acara yang memasuki penyelenggaraan ketiga ini berlangsung di Pedestrian Patung Melanting, kawasan Pasar Badung, Denpasar, pada Sabtu (6/6/2026), dan berhasil menarik perhatian masyarakat dengan beragam karya fesyen yang inovatif.

Tidak hanya menampilkan koleksi dari puluhan desainer dan jenama lokal, DFS 2026 juga menghadirkan pesan kuat mengenai pentingnya keberlanjutan dalam industri fesyen. Salah satu bentuk nyata kampanye tersebut diwujudkan melalui kehadiran stan Recycle Use yang memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai konsep sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan.

Melalui stan tersebut, pengunjung dapat melihat berbagai produk hasil upcycling yang dibuat dari limbah kain. Selain itu, masyarakat juga diajak untuk berpartisipasi dalam gerakan peduli lingkungan dengan mendonasikan maupun menukarkan pakaian layak pakai. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi limbah tekstil sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular di sektor fesyen.

Acara tersebut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Wakil Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, serta Wakil Ketua Harian Dekranasda Kota Denpasar Ny. Swandewi Eddy Mulya.

Dalam sambutannya, I Gusti Ngurah Eddy Mulya menegaskan bahwa kehadiran stan Recycle Use merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kota Denpasar dalam mendukung gerakan Eco-Fashion. Menurutnya, industri fesyen tidak hanya harus menghadirkan nilai estetika, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Pemerintah Kota Denpasar juga memanfaatkan penyelenggaraan acara ini untuk memperkuat upaya pelestarian kawasan heritage. Pemilihan lokasi di kawasan Pasar Badung diharapkan mampu menghidupkan ruang publik sekaligus menjadikannya sebagai pusat ekonomi kreatif yang dapat dinikmati masyarakat secara langsung.

Mengusung tema “Senarai Renjana” yang berarti rangkaian rasa yang dikenakan, DFS 2026 menghadirkan karya dari 12 desainer lokal dan lembaga pendidikan binaan Dekranasda serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar. Berbagai desainer dan jenama yang berpartisipasi antara lain Rhea Cempaka, Dewi Anyar, Harmaita, Signature, Tenun Ikat Bali Nusa, Gita/Kwace Bali, Bali Puspa by Jro Puspa, Tresna/De’vastra, Jegeg Tribusana, Nethica Indonesia, Paras Bali, Lului, serta Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.

Pelaksanaan DFS 2026 yang bertepatan dengan peringatan Bulan Bung Karno mengusung konsep Fashion on The Street. Konsep ini membawa semangat “fashion for all”, yaitu menjadikan fesyen sebagai ruang ekspresi yang terbuka bagi semua kalangan.

Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, menyampaikan bahwa acara ini dirancang untuk mendekatkan karya para desainer kepada masyarakat sekaligus memperluas akses publik terhadap dunia fesyen. Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan menikmati fesyen sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Untuk memperkuat pesan keberlanjutan, DFS 2026 juga menggandeng sejumlah komunitas yang bergerak di bidang lingkungan. Komunitas Lorakaca menghadirkan berbagai kerajinan berbahan kain perca, Rekynd menampilkan edukasi mengenai pengelolaan sampah tekstil, sementara Membumi menggelar workshop upcycle yang mengajak masyarakat mengolah kembali barang bekas menjadi produk bernilai guna.

Melalui penyelenggaraan DFS 2026, Kota Denpasar tidak hanya menunjukkan perkembangan industri kreatif lokal, tetapi juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pelaku fesyen, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam mewujudkan industri fesyen yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Fesyen tidak lagi sekadar tentang pakaian, melainkan juga menjadi representasi identitas, kreativitas, dan komitmen terhadap keberlanjutan.