Tahun 2025 menjadi periode kelam bagi industri tekstil nasional. Satu per satu pabrik raksasa tekstil berguguran, menandai rapuhnya fondasi industri yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung manufaktur dan penyerapan tenaga kerja. Minimnya permintaan domestik akibat banjir produk impor menjadi pemicu utama, mendorong kinerja keuangan perusahaan terperosok hingga berujung penutupan pabrik dan pemutusan hubungan kerja massal.
Bea Cukai Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta terus memperkuat peran strategisnya dalam mendukung pertumbuhan industri dan penyerapan tenaga kerja. Sepanjang periode terbaru, instansi ini menerbitkan 12 izin Kawasan Berikat (KB) serta dua izin Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) bagi perusahaan yang beroperasi di wilayah Jawa Tengah, dengan mayoritas penerima berasal dari sektor industri tekstil.
- Pemda Morowali Dorong UMKM Konveksi Lewat Peninjauan Rumah Jahit Bersama
- Perjanjian Dagang Indonesia–Eurasia Dorong Lonjakan Kinerja Ekspor Nasional
- Kadin Sampaikan Curhatan Pelaku Industri Baja, Alas Kaki, dan Tekstil kepada Menkeu Purbaya
- Jaga Pasokan, Jangan Tutup Impor Bahan Tekstil yang Belum Diproduksi di Indonesia
- Pemerintah Perkuat Fondasi Industri Tekstil Lewat Penyusunan Grand Design Nasional
Page 6 of 122
- You are here:
- Home
Berita Populer
- Meski Diterpa Gempuran Produk Impor, Industri Tekstil Bandung Tetap Tumbuh
- Inovasi Daur Ulang Tekstil: Langkah Menuju Industri Fashion Berkelanjutan
- Dampak Buruk Fast Fashion terhadap Lingkungan dan Upaya Mengatasinya
- Industri Tekstil Tertekan, Konsumsi Pakaian Makin Lesu
- Pesanan AS Meningkat, Ekspor Tekstil Indonesia Tembus US$1,02 Miliar
- Industri Tekstil Mulai Bangkit, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
- Industri Tekstil dan Garmen di Ambang Senja
- Gelombang Penutupan Pabrik Tekstil: Dampak Impor dan Kebijakan yang Tak Menentu
- Paradoks Industri Fashion: Konsumsi Tinggi, Tantangan Semakin Berat
- Revisi Kebijakan Impor dan Tantangan Daya Saing Industri Nasional