Industri tekstil Indonesia masih terhimpit oleh dampak pandemi Covid-19 yang belum pulih sepenuhnya. Meskipun demikian, ada upaya dari beberapa perusahaan untuk memastikan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) kepada karyawannya meskipun dalam kondisi yang sulit. Menurut Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan dan Pengembangan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Nurdin Setiawan, kondisi industri tekstil saat ini masih belum mencapai puncaknya. Dengan rata-rata utilisasi industri sekitar 60%, pabrikan tekstil harus menyesuaikan jumlah tenaga kerja dengan kapasitas produksi yang tersedia. Hal ini membuat pembayaran gaji saja menjadi tantangan, apalagi pembayaran THR.

Pada tahun lalu, Kementerian Perdagangan Indonesia mengambil langkah konkret untuk mendukung pertumbuhan industri pakaian dalam negeri melalui penerbitan dua aturan baru. Peraturan-peraturan ini, yaitu Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023 tentang Perizinan Berusaha, Periklanan, Pembinaan dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan melalui Sistem Elektronik, dan Permendag Nomor 36 Tahun 2023 yang berkaitan dengan kebijakan dan pengaturan impor barang, dirancang untuk meningkatkan perlindungan serta pengawasan terhadap industri pakaian dalam negeri.

Ekspor produk tekstil dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada awal tahun 2024 menunjukkan peningkatan, namun masih jauh dari potensi maksimalnya. Disperindag DIY telah mencatat bahwa ekspor tekstil pada Januari dan Februari 2024 mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan angka yang lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun 2022. Syam Arjayanti, Kepala Disperindag DIY, mengungkapkan bahwa langkah-langkah strategis sedang diambil untuk memperbaiki situasi ini.