Pelemahan nilai tukar rupiah kembali memberi tekanan terhadap industri tekstil nasional. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh perusahaan-perusahaan sektor hulu tekstil yang kini menghadapi peningkatan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Masuknya kain impor asal China secara masif ke pasar domestik semakin menekan keberlangsungan industri tekstil nasional. Kondisi ini turut dirasakan oleh pelaku industri di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Salah satu perusahaan tekstil di wilayah tersebut, PT Delta Merlin Sandang Tekstil (DMST) 1, bahkan terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 60 persen pekerjanya akibat kalah bersaing dengan produk impor yang lebih murah.
Meningkatnya konsumsi pakaian dinilai menjadi salah satu penyebab melonjaknya limbah tekstil yang kini mulai mengancam kelestarian lingkungan. Kesadaran untuk membeli pakaian sesuai kebutuhan pun dinilai penting guna menekan penumpukan sampah tekstil yang sulit didaur ulang.
Industri tekstil nasional kembali menghadapi tekanan berat akibat membanjirnya kain impor asal Tiongkok di pasar domestik. Produk impor dengan harga jauh lebih murah membuat industri lokal kesulitan bersaing, baik dari sisi biaya produksi maupun teknologi, sehingga sejumlah perusahaan terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan tekanan besar bagi industri tekstil nasional. Kenaikan kurs yang terjadi pada Kamis (14/5/2026) menyebabkan lonjakan biaya operasional, terutama bagi produsen yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kondisi tersebut mendorong pelaku industri untuk mulai menyesuaikan harga jual produk demi menjaga kelangsungan usaha.
Page 2 of 164