Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional tidak berada dalam fase kemunduran, melainkan tengah memasuki periode pertumbuhan baru yang menjanjikan. Pandangan ini sekaligus membantah anggapan bahwa sektor TPT Indonesia merupakan industri sunset.

Kemitraan strategis antara Indonesia dan India di sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) semakin diperkuat sebagai respons terhadap lonjakan biaya energi global dan gangguan rantai pasok akibat dinamika geopolitik. Kolaborasi ini diwujudkan melalui pertemuan antara Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan India ITME Society dalam forum Interactive Business Session yang digelar di Hotel Sheraton Bandung, dengan melibatkan puluhan pelaku industri dari kedua negara.

Wacana pembentukan BUMN tekstil kembali mengemuka, namun kalangan pengusaha menilai langkah tersebut harus diarahkan secara tepat agar mampu menjawab persoalan mendasar industri. Alih-alih masuk ke sektor hilir seperti garmen, pemerintah didorong untuk memfokuskan peran BUMN pada sektor hulu, khususnya dalam penyediaan bahan baku.

Industri kreatif berbasis budaya kembali menunjukkan geliatnya. Kali ini, UMKM Jegeg Tri Busana dari Bali siap meramaikan ajang Persit Bisa 2 yang akan berlangsung di Jakarta pada 7–9 Mei 2026. Partisipasi ini menjadi langkah nyata dalam membawa wastra tradisional Bali ke tingkat nasional sekaligus memperkuat eksistensi industri tekstil lokal.

Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah membawa dampak berantai terhadap berbagai sektor industri global, termasuk industri tekstil di Indonesia. Ketidakpastian geopolitik yang terjadi turut memengaruhi stabilitas pasokan bahan baku serta mendorong kenaikan biaya produksi. Dalam situasi ini, pelaku usaha tekstil mulai mengalihkan strategi dengan memfokuskan target pasar ke dalam negeri sebagai langkah bertahan.