Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional memasuki tahun 2026 dengan tantangan global yang semakin kompleks. Ketegangan geopolitik, disrupsi perdagangan, hingga perubahan rantai pasok dunia membentuk ulang peta persaingan internasional. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, pelaku industri dituntut untuk lebih efisien, adaptif, serta mampu membaca arah perubahan pasar secara visioner.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional kembali menunjukkan tanda-tanda pemulihan di tengah tekanan global yang masih berlangsung. Pemerintah menilai sektor ini tidak lagi tepat disebut sebagai industri yang meredup, melainkan tengah memasuki fase pertumbuhan baru yang lebih optimistis.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional tidak berada dalam fase kemunduran, melainkan tengah memasuki periode pertumbuhan baru yang menjanjikan. Pandangan ini sekaligus membantah anggapan bahwa sektor TPT Indonesia merupakan industri sunset.
Kemitraan strategis antara Indonesia dan India di sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) semakin diperkuat sebagai respons terhadap lonjakan biaya energi global dan gangguan rantai pasok akibat dinamika geopolitik. Kolaborasi ini diwujudkan melalui pertemuan antara Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan India ITME Society dalam forum Interactive Business Session yang digelar di Hotel Sheraton Bandung, dengan melibatkan puluhan pelaku industri dari kedua negara.
Wacana pembentukan BUMN tekstil kembali mengemuka, namun kalangan pengusaha menilai langkah tersebut harus diarahkan secara tepat agar mampu menjawab persoalan mendasar industri. Alih-alih masuk ke sektor hilir seperti garmen, pemerintah didorong untuk memfokuskan peran BUMN pada sektor hulu, khususnya dalam penyediaan bahan baku.
Page 7 of 161