Indonesia berpotensi menjadi tujuan limpahan barang-barang tekstil impor dari negara-negara seperti China, India, Vietnam, hingga Bangladesh akibat kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kebijakan ini memicu kekhawatiran akan berubahnya peta perdagangan global, di mana negara-negara produsen utama tekstil dan produk tekstil (TPT) akan mencari pasar alternatif, dan Indonesia menjadi salah satu yang paling rentan.

Yogyakarta akan menjadi pusat perhatian dunia pada Oktober 2025 mendatang, saat dua konferensi besar di industri tekstil dan garmen dunia, International Textile Manufacturers Federation (ITMF) dan International Apparel Federation (IAF), digelar di kota budaya tersebut. Acara prestisius ini dijadwalkan berlangsung pada 24–25 Oktober 2025, bertempat di Hotel Marriott Yogyakarta.

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan pentingnya diplomasi perdagangan yang proaktif sebagai respons terhadap kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurutnya, langkah ini sangat krusial agar industri dalam negeri tidak semakin terpuruk akibat tekanan dari kebijakan proteksionisme tersebut.

Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi pukulan berat bagi industri tekstil Indonesia. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menyampaikan kekhawatiran bahwa para investor asing akan memilih hengkang dari Indonesia dan memindahkan produksinya ke negara-negara seperti Bangladesh, India, atau Sri Lanka yang tidak terdampak tarif tinggi dari AS.

Penerapan tarif impor baru oleh Amerika Serikat berpotensi membuat Indonesia kebanjiran produk tekstil dari berbagai negara. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastraatmaja, menyatakan bahwa Indonesia bisa menjadi sasaran utama bagi negara-negara yang mengalami kelebihan produksi akibat terhambatnya ekspor ke Amerika.