Industri tekstil dan alas kaki terus menjadi sektor strategis yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Selain berperan sebagai penyumbang ekspor nonmigas, kedua industri tersebut juga memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja dan memperkuat sektor manufaktur nasional. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, peningkatan daya saing melalui kolaborasi, inovasi, dan adopsi teknologi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Kebijakan kenaikan Pajak Air Tanah (PAT) yang diberlakukan di sejumlah daerah menuai perhatian dari kalangan industri, khususnya sektor tekstil dan garmen yang memiliki kebutuhan air cukup besar dalam proses produksinya. Di tengah upaya pemerintah daerah meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya air, pelaku industri menilai lonjakan tarif yang terlalu tinggi berpotensi menambah tekanan biaya operasional dan mengurangi daya saing industri nasional.
Upaya pemerintah dalam menekan peredaran produk tekstil impor ilegal mulai memberikan dampak positif bagi industri konveksi dalam negeri. Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) mencatat peningkatan pemesanan yang signifikan pada usaha industri kecil dan menengah (IKM) anggota asosiasi tersebut sejak awal April 2026.
Kinerja ekspor Indonesia berpotensi menghadapi tantangan baru setelah Amerika Serikat melalui Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) menilai Indonesia belum efektif dalam menegakkan larangan impor barang yang diproduksi menggunakan kerja paksa. Temuan tersebut membuka peluang penerapan tarif tambahan sebesar 10% terhadap sejumlah produk Indonesia yang memasuki pasar AS.
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga pertumbuhan bisnis dan profitabilitas sepanjang 2026 di tengah ketatnya persaingan industri tekstil dan apparel global serta tekanan pelemahan nilai tukar rupiah.
Page 2 of 169