Keramaian kembali terasa di lorong-lorong Blok B Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, menjelang Hari Raya Idulfitri. Ribuan pengunjung memadati kawasan pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu, menciptakan suasana yang riuh sekaligus penuh aktivitas ekonomi.

Momentum Hari Raya Idulfitri kembali menjadi pendorong utama peningkatan permintaan di industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Setiap tahun, tradisi masyarakat membeli pakaian baru menjelang Lebaran membuat permintaan produk fesyen, pakaian jadi, hingga perlengkapan ibadah meningkat cukup signifikan dibandingkan periode normal.

Pemerintah memastikan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), pakaian jadi, alas kaki, serta subsektor terkait lainnya berada dalam kondisi siap untuk memenuhi lonjakan kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri. Peningkatan konsumsi pada periode ini merupakan fenomena musiman yang terjadi setiap tahun, terutama untuk produk fesyen seperti busana muslim, sarung, mukena, perlengkapan ibadah, hingga alas kaki yang sebagian besar diproduksi oleh industri dalam negeri.

Industri tekstil global dalam beberapa tahun terakhir menghadapi berbagai tekanan, mulai dari perubahan perilaku konsumen, meningkatnya biaya produksi, hingga persaingan ketat dari merek fast fashion berbasis digital asal Tiongkok. Namun di tengah kondisi tersebut, salah satu merek fesyen global, Zara, justru mampu mempertahankan kinerja bisnis yang kuat dan terus mencetak pertumbuhan.

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia saat ini berada pada fase yang sangat menentukan. Dalam dua tahun terakhir, sektor ini menghadapi berbagai tekanan sekaligus, mulai dari maraknya impor ilegal, melemahnya daya beli masyarakat, hingga meningkatnya tuntutan standar global terhadap produk tekstil. Kondisi tersebut membuat pelaku industri tidak lagi dapat menjalankan bisnis dengan pola lama. Adaptasi melalui inovasi teknologi menjadi kebutuhan mendesak agar industri tetap mampu bertahan sekaligus berkembang secara berkelanjutan.