Industri tekstil dan garmen Vietnam menargetkan nilai ekspor mencapai sekitar US$50 miliar dengan memanfaatkan restrukturisasi rantai pasok serta optimalisasi perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA). Target ambisius ini diproyeksikan tercapai dalam waktu dekat dan meningkat hampir US$3 miliar dibandingkan capaian tahun 2025, sejalan dengan arah pengembangan industri yang berfokus pada pertumbuhan berkelanjutan dan integrasi lebih dalam ke rantai nilai global.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya penyelamatan dan penguatan industri tekstil nasional di tengah tekanan perang dagang global yang kian meningkat. Industri tekstil dinilai sebagai salah satu sektor strategis yang paling tangguh, berorientasi ekspor, serta memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja dan menopang perekonomian nasional.

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berkomitmen menggenjot kembali industri tekstil nasional sebagai sektor strategis yang dinilai paling terbuka dalam menghadapi dinamika global dan perang dagang. Upaya ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat industri padat karya sekaligus meningkatkan daya saing nasional.

Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian serius terhadap keberlangsungan industri tekstil nasional di tengah tekanan global dan memanasnya perang dagang internasional. Pesan tersebut disampaikan langsung kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pertemuan di Hambalang, yang kemudian diungkapkan dalam Workshop Persiapan Pemeriksaan LKPP, LKKL, dan LKBUN Tahun 2025 di BPK Tower, Jakarta.

Pemerintah kembali memperkuat instrumen perlindungan bagi industri tekstil nasional dengan memberlakukan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) atas impor kain tenunan dari kapas. Kebijakan ini mulai berlaku pada 10 Januari 2026 sebagai respons atas kerugian serius yang dialami industri dalam negeri akibat lonjakan impor produk sejenis dengan harga murah.