Industri pakaian jadi global kembali dipaksa menghadapi badai ketidakpastian yang mengancam stabilitas ekonomi dunia. Kali ini, eskalasi konflik di kawasan Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz yang krusial, telah memicu lonjakan harga energi secara drastis dan menciptakan kelangkaan pasokan yang akut. Federasi Pakaian Jadi Internasional (IAF) memberikan peringatan keras bahwa ketergantungan industri terhadap bahan bakar fosil kini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi keamanan energi dan kelangsungan bisnis secara menyeluruh.

Dalam pernyataan resminya, IAF menekankan bahwa sebagai salah satu industri terbesar di dunia, sektor garmen memiliki kemampuan terbatas untuk memengaruhi konstelasi geopolitik. Namun, cara industri merespons guncangan eksternal ini akan menentukan masa depannya. IAF mencatat bahwa fondasi industri yang kuat hanya bisa dibangun melalui peningkatan produktivitas dan pengurangan pemborosan modal serta material secara signifikan. Hal ini membutuhkan investasi berkelanjutan dalam proses rantai pasok dan kolaborasi yang lebih dalam, yang didukung oleh kerangka praktik pembelian yang bertanggung jawab.

Fenomena yang sering terjadi dalam krisis sebelumnya adalah refleks para pembeli atau merek global untuk memindahkan beban biaya dan risiko ke bagian hulu, yaitu kepada para produsen garmen. Namun, IAF mengingatkan bahwa kapasitas produsen untuk menyerap kenaikan biaya tidaklah tanpa batas. Memaksa manufaktur menanggung seluruh risiko mungkin memberikan keuntungan jangka pendek bagi pembeli, tetapi pada akhirnya akan melemahkan seluruh ekosistem industri dan menyebabkan kerugian jangka panjang bagi semua pihak. Melalui Sustainable Terms of Trade Initiative (STTI), IAF berupaya menciptakan sistem yang lebih seimbang agar produsen tetap memiliki kapasitas untuk berinvestasi di tengah tekanan biaya operasional yang mencekik.

Krisis di kawasan penghasil minyak dan gas terbesar dunia ini juga menjadi momentum titik balik bagi transformasi energi. Investasi pada energi terbarukan kini telah bergeser dari sekadar kepedulian lingkungan menjadi prioritas strategis bersama bagi merek, pengecer, dan pemerintah. Menanggapi urgensi ini, IAF bersama ITMF telah meluncurkan Apparel and Textile Transformation Initiative (ATTI) pada tahun 2025. Inisiatif ini dirancang untuk menentukan jalur paling efektif dalam transformasi energi dan air, dengan babak percontohan yang sedang berjalan di pusat produksi utama seperti Bangladesh dan Türkiye.

Pada akhirnya, memperkuat ketahanan dan keadilan dalam rantai pasok pakaian bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan ekonomi yang mendesak di masa yang penuh ketidakpastian ini. Keberhasilan industri untuk tetap berdiri tegak di tahun 2026 sangat bergantung pada kesediaan para pemangku kepentingan untuk beralih dari model transaksi yang eksploitatif menuju kemitraan yang lebih berkelanjutan. Sebagaimana ditegaskan oleh para pemimpin industri, transisi menuju energi bersih dan hubungan dagang yang lebih adil adalah satu-satunya jalan keluar untuk memastikan bahwa mesin ekonomi mode dunia tidak berhenti berputar akibat guncangan geopolitik.