Industri mode global tengah menyaksikan pergeseran paradigma yang menarik dalam upaya penyelamatan lingkungan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa konsep pakaian daur ulang kini bukan lagi sekadar tren pinggiran, melainkan telah masuk ke arus utama produksi massal. Berdasarkan data dari pemasok terkemuka asal Inggris, A.M. Custom Clothing, terdapat lonjakan luar biasa sebesar 76 persen dalam produksi pakaian yang menggunakan bahan daur ulang dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, di balik angka pertumbuhan yang mengesankan tersebut, sebuah realitas industri tetap tak tergoyahkan: volume penggunaan kapas organik masih tujuh kali lebih tinggi dibandingkan alternatif bahan daur ulang, membuktikan bahwa kapas tetap menjadi raja di lemari pakaian konsumen global.

Fenomena ini mencerminkan perubahan cara pandang merek dalam mendekati keberlanjutan. Alih-alih hanya berfokus pada satu jenis material "masa depan", perusahaan kini lebih selektif dalam memilih kain berdasarkan performa, ketahanan, dan penggunaan akhirnya. Minat konsumen pun terpantau meningkat tajam, di mana data Google Trends mencatat kenaikan pencarian untuk kata kunci "fashion berkelanjutan" hingga 222 persen dalam periode pekan mode tahun ini, mencapai titik tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Alex Franklin, pendiri A.M. Custom Clothing, menjelaskan bahwa merek-merek kini mulai berpikir lebih serius tentang sirkularitas. Menurutnya, fokus utama bukan lagi sekadar bagaimana sebuah pakaian dibuat, tetapi seberapa lama pakaian tersebut akan bertahan dan berfungsi dengan baik. Franklin mencatat bahwa kapas tetap populer karena rantai pasoknya yang sudah mapan dan sertifikasi seperti organik atau Fairtrade yang sangat mudah dikenali konsumen. "Asal-usul etis kapas lebih jelas untuk dikomunikasikan oleh merek sebagai opsi berkelanjutan, lengkap dengan jalur daur ulang yang sudah mapan untuk memperpanjang masa pakainya," ujar Franklin.

Di sisi lain, serat berbasis tanaman lainnya seperti linen dan lyocell juga mengalami pertumbuhan stabil, masing-masing sebesar 73 persen dan 42 persen dalam lima tahun terakhir karena dampak lingkungannya yang rendah. Sementara itu, bahan daur ulang seperti poliester (RPET) mulai menemukan pangsa pasar yang spesifik, terutama di sektor pakaian olahraga dan perlengkapan kerja teknis yang membutuhkan sifat tahan air dan cepat kering.

Menariknya, perubahan ini juga didorong oleh tekanan biaya hidup yang membuat pembeli mengadopsi pola pikir "biaya per pemakaian" (cost-per-wear). Shopper kini lebih memprioritaskan durabilitas dibandingkan harga awal yang murah. Didukung oleh regulasi lingkungan (ESG) yang semakin ketat, para pelaku industri dipaksa untuk menanamkan strategi keberlanjutan lebih dalam ke dalam pengembangan produk mereka. Pada akhirnya, masa depan mode berkelanjutan bukan hanya soal mengganti material lama dengan yang baru, melainkan memilih bahan terbaik yang mampu memberikan pengalaman maksimal bagi pengguna sekaligus meminimalkan jejak karbon di bumi.