Industri garmen Tiongkok tengah menghadapi dinamika baru yang menantang di awal tahun 2025. Meski pangsa pasarnya di Amerika Serikat mulai menunjukkan tren penurunan, Negeri Tirai Bambu tersebut terbukti masih mampu mempertahankan posisinya sebagai pemasok utama yang meraih keuntungan premium. Berdasarkan data terbaru dari alat intelijen pengadaan TexPro, Amerika Serikat tetap menjadi pasar bernilai tinggi bagi ekspor pakaian jadi Tiongkok dibandingkan dengan rata-rata pasar global lainnya.

Fenomena ini terlihat jelas dari selisih harga ekspor yang cukup mencolok. Sepanjang tahun 2025, harga rata-rata ekspor pakaian Tiongkok ke AS tercatat sebesar US$3,68 per potong. Angka ini jauh melampaui rata-rata harga ekspor global Tiongkok yang hanya berada di angka US$3,21 per potong. Namun, kejayaan ini bukan tanpa hambatan. Jika menilik ke belakang, tekanan harga terlihat kian menguat; pada tahun 2022, harga per potong pakaian yang dikirim ke AS sempat menyentuh US$4,59. Penurunan harga ini merefleksikan adanya pergeseran strategi Tiongkok menuju kompetitivitas biaya demi menghadapi tekanan inflasi dan perubahan perilaku konsumen Amerika yang kini lebih berhati-hati dalam berbelanja.

Secara volume, dominasi Tiongkok juga mengalami sedikit pelunakan. Pengiriman garmen ke AS menyusut dari 7,908 miliar potong pada 2024 menjadi 7,621 miliar potong di tahun 2025. Penurunan ini berdampak langsung pada nilai total ekspor ke Negeri Paman Sam yang merosot dari US$34,538 miliar menjadi US$30,912 miliar dalam satu tahun terakhir. Para analis melihat ini sebagai sinyal bahwa pembeli di AS mulai mendiversifikasi sumber pengadaan mereka ke negara-negara alternatif, meskipun Tiongkok tetap memegang kendali untuk produk-produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Seorang analis pasar dari TexPro mencatat bahwa normalisasi permintaan global sedang terjadi setelah mencapai puncaknya pada tahun 2022. Total ekspor pakaian Tiongkok ke seluruh dunia pada 2025 mencapai US$145,681 miliar, turun signifikan dibandingkan dua tahun lalu yang mencapai US$164,635 miliar. "Penurunan ini menunjukkan adanya penyesuaian inventaris di pasar konsumsi utama dan persaingan harga yang semakin sengit," ungkap laporan tersebut. Tren serupa juga merambah ke sektor alas kaki, di mana harga ekspor ke AS tetap lebih tinggi dibandingkan rata-rata global, yakni US$0,43 berbanding US$0,36 per pasang.

Meskipun harus menghadapi penurunan nilai ekspor dan pengiriman yang melambat, Tiongkok tetap membuktikan ketangguhannya dalam manufaktur volume besar dengan total produksi global mencapai 41,1 miliar potong pakaian. Secara keseluruhan, potret industri tekstil Tiongkok saat ini menggambarkan masa transisi yang krusial. Walaupun kompetisi global semakin tajam dan dinamika pengadaan terus berevolusi, pasar Amerika Serikat tetap menjadi destinasi "premium" yang memastikan Tiongkok tetap relevan dalam peta perdagangan mode dunia.