London Fashion Week (LFW) untuk musim Spring/Summer 2026 yang baru saja berakhir pada pertengahan Februari 2026 telah bertransformasi menjadi panggung pernyataan politik dan budaya yang paling berani di industri garmen global. Diselenggarakan oleh British Fashion Council (BFC) di jantung kota London, Inggris, ajang ini tidak hanya memamerkan estetika visual, tetapi juga menjadi bukti resiliensi industri kreatif Inggris di bawah kepemimpinan baru yang visioner. Edisi kali ini menandai tonggak sejarah penting karena merupakan gelaran besar pertama di bawah arahan Laura Weir sebagai CEO baru BFC, yang membawa misi "Designer-First" untuk memastikan keberlangsungan bisnis para talenta kreatif di tengah gejolak ekonomi dan kenaikan tarif perdagangan dunia.

Era di mana perusahaan mode raksasa bisa dengan bebas membakar atau membuang tumpukan pakaian sisa yang tak laku akan segera berakhir. Uni Eropa baru saja mengadopsi langkah-langkah baru yang tegas di bawah regulasi ecodesign untuk produk berkelanjutan (ESPR). Mulai 19 Juli 2026, perusahaan besar di blok 27 negara tersebut dilarang keras menghancurkan pakaian, alas kaki, dan aksesori yang tidak terjual. Aturan ini merupakan upaya drastis Brussel untuk memangkas limbah dan menciptakan keadilan bagi perusahaan yang telah beralih ke model bisnis sirkular.

Industri tekstil Uni Eropa kini berada di persimpangan jalan yang krusial antara ambisi ramah lingkungan dan realitas teknis yang carut-marut. Sebuah laporan terbaru dari Centre for European Policy Studies (CEPS), sebuah lembaga pemikir terkemuka yang berbasis di Brussel, mengeluarkan peringatan keras bahwa kebijakan Digital Product Passport (DPP) milik Uni Eropa terancam gagal total dalam mendorong daur ulang tekstil skala besar. Masalah utamanya bukanlah ketiadaan teknologi daur ulang, melainkan adanya jurang data digital yang dalam dan rendahnya digitalisasi di sepanjang rantai nilai industri.

Sektor ritel gaya hidup dan fesyen di Inggris mengawali tahun 2026 dengan napas yang terengah-engah. Berdasarkan data terbaru dari High Street Sales Tracker yang dirilis oleh firma penasihat bisnis BDO, penjualan ritel diskresioner hanya mencatatkan kenaikan tipis sebesar 1,7 persen secara tahunan (YoY) pada Januari ini. Angka tersebut menjadi sinyal waspada bagi para pelaku usaha karena pertumbuhan yang terjadi masih tertinggal jauh di bawah tingkat inflasi, yang mengindikasikan bahwa volume penjualan secara riil sebenarnya sedang mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Italia secara resmi mengambil langkah tegas untuk membendung dominasi platform ultra-fast fashion seperti Shein dan Temu yang kian tak terkendali. Pada hari Selasa, Senat Italia mengesahkan "Legge di Bilancio 2026" atau Undang-Undang Anggaran 2026, yang memperkenalkan kebijakan pungutan sebesar 2 euro untuk setiap paket yang masuk ke Italia dari luar Uni Eropa dengan nilai di bawah 150 euro. Langkah ini merupakan perubahan radikal dari kebijakan sebelumnya di mana barang-barang bernilai rendah dibebaskan dari bea masuk, sebuah celah hukum yang selama ini dieksploitasi untuk membanjiri pasar dengan produk murah dan berkualitas rendah.