Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional menghadapi tekanan yang semakin berat di pertengahan 2026. Lonjakan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah, serta fluktuasi harga minyak dunia membuat pelaku industri kesulitan menjaga daya saing di tengah melemahnya permintaan pasar.

PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE), emiten yang bergerak di industri tekstil perlengkapan kamar tidur, mencatat penurunan kinerja keuangan pada kuartal I-2026. Pelemahan daya beli masyarakat serta meningkatnya beban operasional menjadi faktor utama yang menekan pendapatan dan laba bersih perusahaan.

Program Kredit Industri Padat Karya yang disiapkan pemerintah untuk mendukung ekspansi sektor manufaktur penyerap tenaga kerja masih belum dimanfaatkan secara optimal. Hingga pertengahan 2026, nilai pengajuan kredit tersebut masih relatif kecil meski pemerintah telah memperluas cakupan pembiayaan, termasuk untuk kebutuhan modal kerja.

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor tekstil di Kecamatan Arcamanik, Bandung, mendapatkan pendampingan dari dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Telkom University untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat kinerja bisnis. Program tersebut difokuskan pada upaya mengurangi pemborosan dalam proses produksi melalui penerapan sistem pengukuran kinerja, pengelolaan investasi, dan pengendalian biaya operasional.

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui penerapan sistem pengelolaan sampah terpadu di lingkungan kerja. Bersama Waste4Change dan Eco Touch, perusahaan menerapkan pemilahan sampah sejak dari sumber sebagai langkah nyata mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sekaligus membangun budaya zero waste.