Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia kini menaruh harapan besar pada hasil pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Agenda diplomasi tersebut dinilai krusial karena menyangkut peluang penurunan tarif resiprokal yang selama ini membebani daya saing produk nasional di pasar Amerika Serikat.

Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi momentum penting bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Pelaku usaha berharap diplomasi tingkat tinggi tersebut mampu menghasilkan keringanan tarif ekspor ke pasar Amerika Serikat, yang selama ini menjadi salah satu tujuan utama produk tekstil Indonesia.

Dalam satu dekade terakhir, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia berada dalam tekanan yang tidak ringan. Sektor yang selama ini dikenal sebagai tulang punggung industri padat karya justru mengalami stagnasi ekspor sejak pertengahan 2010-an. Ketika negara pesaing melesat, Indonesia cenderung berjalan di tempat. Kondisi ini bukan semata-mata dipengaruhi perlambatan ekonomi global, melainkan mencerminkan persoalan struktural yang belum ditangani secara konsisten.

Manajemen PT Asia Pacific Fiber (APF) Kaliwungu, Kabupaten Kendal, mengajukan restrukturisasi kepada pemerintah sebagai langkah strategis untuk mengatasi tekanan finansial yang tengah dihadapi perusahaan. Upaya tersebut ditempuh demi menjaga keberlangsungan operasional sekaligus menyelamatkan sekitar 850 pekerja yang menggantungkan hidupnya pada industri tekstil tersebut.

Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Washington DC untuk bertemu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia dalam mengamankan kepentingan dagang nasional. Salah satu isu krusial yang mengemuka adalah upaya memperoleh keringanan tarif bagi industri padat karya berorientasi ekspor, terutama tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki.