Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak nyata terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia. Salah satu dampak paling terasa adalah kenaikan harga bahan baku polyester yang mencapai sekitar 15%, sehingga menambah tekanan bagi pelaku industri, khususnya di sektor hulu seperti produsen serat dan benang filamen.
Di tengah pertumbuhan positif industri pengolahan nasional, muncul kekhawatiran terkait ketimpangan antar subsektor yang semakin nyata. Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, mengungkapkan bahwa sektor padat karya kini membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah karena perannya yang sangat vital dalam menyerap tenaga kerja.