Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Evita Nursanty, menyoroti berbagai persoalan yang masih membebani industri tekstil nasional. Menurutnya, rendahnya daya saing industri tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan tenaga kerja terampil, tetapi juga iklim usaha yang dinilai belum kondusif.

Industri tekstil nasional masih menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan kapasitas produksi hingga banyaknya pabrik yang tutup membuat sektor ini dihantam gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri mulai mencari berbagai cara untuk menekan biaya operasional agar bisnis tetap berjalan.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menilai tantangan yang dihadapi industri tekstil nasional tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan tenaga kerja terampil. Menurutnya, masih banyak hambatan struktural yang membuat iklim usaha di sektor industri belum berjalan optimal.

Jumlah pekerja informal di Jawa Tengah mengalami peningkatan pada Februari 2026 seiring melemahnya sektor industri, khususnya tekstil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah menunjukkan, penduduk yang bekerja di sektor informal mencapai 13,04 juta orang atau sekitar 61 persen dari total 21,38 juta penduduk bekerja di provinsi tersebut. Angka itu naik 0,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 12,65 juta orang.

Nilai tukar rupiah masih mengalami tekanan hingga Kamis (21/5/2026). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.600 per dolar AS atau stagnan dibanding penutupan perdagangan sebelumnya. Namun pada pukul 11.01 WIB, rupiah kembali melemah sekitar 0,31% ke posisi Rp17.655 per dolar AS. Sebelumnya, pada Rabu (20/5/2026), rupiah sempat ditutup menguat 0,54% ke level Rp17.600 per dolar AS setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.