Ketidakstabilan pasokan listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi salah satu sektor yang paling terdampak karena aktivitas produksinya sangat bergantung pada ketersediaan energi yang stabil dan berkelanjutan.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional semakin dituntut untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas produksi di tengah perubahan kebutuhan pasar yang berlangsung cepat. Perkembangan teknologi digital, otomatisasi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi salah satu solusi yang mulai diadopsi pelaku industri untuk mempercepat proses produksi sekaligus meningkatkan akurasi dalam pengambilan keputusan.
Pemanfaatan serat alami sebagai bahan baku industri fesyen berkelanjutan terus mendapat perhatian dari pemerintah. Salah satu upaya tersebut terlihat dari dukungan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, terhadap inovasi yang dikembangkan Aruna Creative dalam mengolah serat tanaman rami menjadi material tekstil bernilai tinggi.
Pemerintah memutuskan untuk memusnahkan pakaian bekas impor ilegal atau balpres hasil sitaan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan nilai mencapai lebih dari Rp54 miliar. Langkah tersebut diambil setelah upaya pemanfaatan barang sitaan oleh industri tekstil dalam negeri tidak dapat direalisasikan.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, menegaskan bahwa langkah deregulasi yang tengah dilakukan pemerintah merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan industri sekaligus melindungi pekerja dari ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), khususnya di sektor-sektor padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja di Indonesia.
Page 1 of 110