Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda industri tekstil dan garmen dalam beberapa tahun terakhir ternyata tidak selalu berujung pada meningkatnya angka pengangguran. Di balik tekanan yang dihadapi sektor tersebut, justru muncul fenomena baru, yakni lahirnya pelaku industri kecil dan menengah (IKM) dari kalangan mantan buruh pabrik.

Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) mengingatkan meningkatnya peredaran tekstil bermotif batik di pasar domestik berpotensi mengancam keberlangsungan industri batik tradisional. Jika kondisi tersebut tidak segera diatasi melalui pembenahan tata niaga dan edukasi kepada masyarakat, keberadaan batik asli dikhawatirkan akan terus tergerus dalam beberapa tahun ke depan.

Transformasi digital semakin mengubah wajah industri tekstil dan fesyen nasional. Penggunaan teknologi digital dye sublimation kini tidak hanya meningkatkan kualitas hasil cetak, tetapi juga mempercepat proses produksi dan membuka peluang bisnis baru di berbagai segmen industri.

Epson Indonesia memperkuat komitmennya dalam mendorong transformasi industri tekstil digital dengan meluncurkan printer dye-sublimation terbaru, SureColor SC-F20030. Produk tersebut diperkenalkan pada ajang Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 sebagai solusi bagi pelaku industri yang membutuhkan proses produksi lebih cepat, efisien, dan mampu menghasilkan kualitas cetak yang konsisten dalam skala besar.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dinilai tidak selalu berakhir pada meningkatnya angka pengangguran. Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) melihat kondisi tersebut juga berpotensi melahirkan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) baru melalui usaha konveksi mandiri yang dirintis oleh para mantan pekerja.