Kenaikan harga minyak mentah dunia hingga menembus level US$100 per barel mulai menjadi perhatian bagi industri manufaktur Indonesia. Meski sebagian besar sektor manufaktur masih mengandalkan batu bara dan listrik sebagai sumber energi utama, lonjakan harga minyak tetap berpotensi meningkatkan biaya produksi melalui transportasi, logistik, hingga bahan baku berbasis petrokimia.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meminta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) memperkuat dukungan pembiayaan bagi industri nasional yang tengah menghadapi tekanan akibat persaingan global. Sektor tekstil, alas kaki, baja, hingga furnitur dinilai perlu mendapat perhatian lebih agar tetap mampu bertahan dan berkembang.
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menilai pekerja di sektor tekstil, sandang, dan kulit memiliki peran penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Para pekerja tersebut disebut sebagai pahlawan devisa karena turut menopang aktivitas industri sekaligus menghasilkan kontribusi melalui kegiatan ekspor.
Pemerintah mendorong Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank untuk memperkuat dukungan pembiayaan bagi industri dalam negeri yang terdampak tekanan geopolitik dan ketidakpastian perdagangan global. Sejumlah sektor seperti tekstil, alas kaki, baja, hingga furnitur menjadi perhatian karena memiliki peran penting terhadap ekspor dan penyerapan tenaga kerja.
Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat daya saing industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia di tengah perubahan lanskap perdagangan global yang semakin dinamis. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan industri sekaligus meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam menghadapi persaingan di pasar internasional.
Page 1 of 134