Kinerja industri pengolahan Indonesia sepanjang 2025 memang mencatat pertumbuhan sebesar 5,30 persen. Namun di balik capaian tersebut, tersimpan persoalan struktural yang berpotensi mengganggu stabilitas ketenagakerjaan nasional. Ketimpangan antar subsektor industri menjadi sorotan, terutama karena sektor padat karya justru mengalami tekanan yang cukup signifikan.

Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak nyata terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia. Salah satu dampak paling terasa adalah kenaikan harga bahan baku polyester yang mencapai sekitar 15%, sehingga menambah tekanan bagi pelaku industri, khususnya di sektor hulu seperti produsen serat dan benang filamen.

Di tengah pertumbuhan positif industri pengolahan nasional, muncul kekhawatiran terkait ketimpangan antar subsektor yang semakin nyata. Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, mengungkapkan bahwa sektor padat karya kini membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah karena perannya yang sangat vital dalam menyerap tenaga kerja.

Bayang-bayang konflik di Timur Tengah mulai terasa hingga ke sektor industri di Indonesia, termasuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Memasuki kuartal II-2026, para pelaku usaha memilih untuk bersikap lebih waspada, terutama akibat kenaikan biaya logistik yang dipicu oleh ketegangan geopolitik tersebut.

Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, pemerintah terus memperkuat peran industri kecil dan menengah (IKM), khususnya pada subsektor fesyen dan kriya. Upaya ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha agar mampu mengikuti perubahan tren pasar sekaligus menjawab tuntutan global yang semakin dinamis.