Sejumlah asosiasi yang menaungi industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) menyoroti sejumlah poin dalam The Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Kesepakatan tersebut telah ditandatangani kedua kepala negara pada Kamis (19/2/2026) dan mengatur besaran tarif resiprokal serta pengecualian tarif untuk sejumlah produk unggulan Indonesia, termasuk tekstil.

Epson menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi industri cetak tekstil di Asia Tenggara melalui peluncuran whitepaper terbaru bertajuk Digital Sublimation Printing: Driving Customer Value, Sustainability, and Growth. Dokumen tersebut disusun bersama International Data Corporation (IDC) berdasarkan survei terhadap pemilik dan pengambil keputusan perusahaan cetak tekstil di Indonesia, Filipina, dan Thailand.

Mananggapi kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat Aggreement on Reciprocal Trade (ART) khususnya di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), kelompok pengusaha kecil produsen pakaian jadi yang terhimpun dalam Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) menyatakan kekhawatirannya khususnya terkait dibukanya importasi worn clothing atau pakaian bekas.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan menegaskan posisi Indonesia tetap kuat dalam kesepakatan dagang terbaru dengan Amerika Serikat. Ia menepis kekhawatiran sejumlah pihak terkait dampak Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang baru saja diteken antara pemerintah Indonesia dan otoritas perdagangan AS, United States Trade Representative.

Kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat memasuki fase baru setelah kedua negara resmi menyepakati penghapusan tarif bea masuk menjadi 0 persen untuk produk tekstil dan garmen (apparel) asal Indonesia dengan skema kuota tertentu. Kesepakatan ini menjadi angin segar bagi industri padat karya nasional yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan global.