Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan ekspor pada tiga subsektor utama, yakni furnitur dan kriya, alas kaki, serta garmen dan tekstil, sebagai respons atas tekanan global, menguatnya kebijakan proteksionisme, serta semakin ketatnya standar masuk pasar Amerika Serikat. Langkah ini dinilai sebagai keputusan strategis yang sejalan dengan struktur industri nasional dan arah perkembangan pasar global.

Industri tekstil Indonesia saat ini berada dalam situasi penuh tantangan akibat ketatnya persaingan global dan meningkatnya tekanan biaya produksi. Untuk menjaga keberlangsungan sektor strategis ini, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai diperlukan langkah-langkah adaptif agar pelaku usaha tetap mampu bertahan.

Pelaku usaha tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional kembali mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas dugaan praktik impor tekstil ilegal yang dinilai telah merusak industri dalam negeri. Desakan ini menguat menyusul temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait aliran dana mencurigakan yang tersimpan di rekening karyawan perusahaan tekstil dengan nilai mencapai Rp2,49 triliun, yang diduga berkaitan dengan transaksi ilegal.

Industri tekstil dan garmen merupakan salah satu sektor strategis yang selama puluhan tahun menjadi penopang perekonomian nasional. Selain berkontribusi signifikan terhadap kinerja ekspor, sektor ini juga menyerap jutaan tenaga kerja di berbagai daerah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, industri tekstil nasional menghadapi tantangan yang semakin kompleks, baik akibat dinamika global maupun kebijakan di dalam negeri.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendesak Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) agar lebih transparan dalam mengungkap temuan dugaan transaksi ilegal di sektor tekstil. Permintaan tersebut muncul menyusul pernyataan PPATK mengenai praktik penyamaran omzet perusahaan tekstil yang nilainya mencapai Rp12,4 triliun.