Pemerintah Tiongkok secara resmi mengumumkan kebijakan penyesuaian tarif impor yang mulai berlaku pada Januari 2026, sebuah langkah yang dirancang untuk memperkuat rantai pasok manufaktur domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global. Berdasarkan pengumuman dari Dewan Negara, kebijakan ini akan memberlakukan tarif impor yang lebih rendah bagi segmen strategis dalam rantai nilai tekstil. Namun, berbeda dengan ekspektasi pasar konsumen, insentif ini hanya menyasar sektor hulu dan produk antara seperti serat sintetis, benang filamen kimia, serta input tekstil fungsional, sementara produk pakaian jadi tetap dikenakan tarif normal.
Industri ekspor Bangladesh menghadapi tahun yang penuh tantangan pada 2025 dengan mencatatkan penurunan ekspor barang dagangan sebesar hampir 5 persen. Berdasarkan data resmi dari Export Promotion Bureau (EPB), nilai ekspor negara tersebut turun menjadi 47,74 miliar USD dibandingkan tahun sebelumnya. Lemahnya permintaan global untuk produk garmen dan barang konsumsi lainnya menjadi faktor utama yang menekan pengiriman, di tengah ketegangan geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah yang mengganggu rute perdagangan serta rantai pasok global.
Industri tekstil hulu Bangladesh kini berada di ambang kehancuran setelah gelombang impor benang murah dari India membanjiri pasar domestik. Berdasarkan laporan terbaru dari Asosiasi Pabrik Tekstil Bangladesh (BTMA), volume impor benang dari negara tetangga tersebut melonjak drastis sebesar 137 persen selama periode April hingga Oktober 2025. Kondisi ini membuat pabrik pemintalan lokal terjebak dengan stok benang yang tidak terjual senilai Tk 12.000 crore, karena kalah bersaing dengan produk India yang dijual dengan harga dumping—lebih murah sekitar $0,30 per kilogram dibandingkan harga domestik.
Sektor tekstil dan garmen Vietnam terus mencatatkan performa impresif di pasar Kanada, menjadikannya sebagai salah satu titik terang dalam peta ekspor negara tersebut. Hingga tahun 2025, nilai ekspor tekstil Vietnam ke Kanada diperkirakan tumbuh sebesar 10 persen menjadi lebih dari 1,3 miliar USD. Keberhasilan ini didorong oleh keuntungan strategis dari Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP), kualitas produk yang unggul, serta upaya proaktif Kanada dalam mendiversifikasi rantai pasok global mereka.
Industri tekstil dan pakaian jadi Vietnam, yang merupakan salah satu raksasa ekspor dunia, kini sedang berada di persimpangan jalan transformasi besar. Menghadapi volatilitas pasar global, lonjakan biaya logistik, hingga tuntutan keberlanjutan yang kian ketat, sektor ini secara resmi melakukan kalibrasi ulang terhadap strategi pengembangannya untuk memastikan daya saing jangka panjang.
Page 14 of 15