Industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia tengah menghadapi perubahan besar seiring semakin ketatnya tuntutan pasar global terhadap transparansi dan keberlanjutan. Di satu sisi, sektor ini masih menjadi salah satu penyumbang penting ekspor nasional dengan nilai ekspor produk fesyen mencapai US$6,5 miliar sepanjang Januari hingga September 2025. Di sisi lain, hadirnya kebijakan baru Uni Eropa mengenai Digital Product Passport (DPP) mendorong pelaku industri untuk segera beradaptasi agar tetap mampu bersaing di pasar internasional.
PERURI menegaskan komitmennya terhadap praktik bisnis berkelanjutan dengan berpartisipasi dalam ajang Sunda Karsa Fest: Karya Kreatif Jawa Barat (KKJ) 2026 yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 di Trans Convention Center, Bandung. Melalui booth bertema keberlanjutan, perusahaan memperkenalkan berbagai inovasi pengelolaan limbah yang mengedepankan prinsip ekonomi sirkular, termasuk program daur ulang limbah tekstil dan limbah produksi kertas.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional menghadapi tekanan yang semakin berat di pertengahan 2026. Lonjakan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah, serta fluktuasi harga minyak dunia membuat pelaku industri kesulitan menjaga daya saing di tengah melemahnya permintaan pasar.
PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE), emiten yang bergerak di industri tekstil perlengkapan kamar tidur, mencatat penurunan kinerja keuangan pada kuartal I-2026. Pelemahan daya beli masyarakat serta meningkatnya beban operasional menjadi faktor utama yang menekan pendapatan dan laba bersih perusahaan.
Program Kredit Industri Padat Karya yang disiapkan pemerintah untuk mendukung ekspansi sektor manufaktur penyerap tenaga kerja masih belum dimanfaatkan secara optimal. Hingga pertengahan 2026, nilai pengajuan kredit tersebut masih relatif kecil meski pemerintah telah memperluas cakupan pembiayaan, termasuk untuk kebutuhan modal kerja.
Page 2 of 114