Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) diperkirakan masih menghadapi tantangan berat pada paruh kedua 2026. Lemahnya daya beli masyarakat, perlambatan permintaan ekspor, serta derasnya arus produk impor dinilai membuat proses pemulihan sektor ini masih berlangsung secara rapuh dan berpotensi menekan penyerapan tenaga kerja hingga akhir tahun.

Setelah sukses diselenggarakan pada tahun 2025, The Textile Industry Badminton Tournament (TTIBT) 2026 kembali hadir sebagai ajang olahraga dan silaturahmi bagi pelaku industri tekstil Indonesia. Kegiatan yang diinisiasi oleh IKA ITT-STTT (Ikatan Alumni Institut Teknologi Tekstil – Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil) ini akan digelar pada 18–19 Juli 2026 di GOR KONI Bandung.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) membuka peluang bagi pelaku usaha fesyen, tekstil, aksesori, dan alas kaki nasional untuk memperluas pasar ekspor ke kawasan Timur Tengah melalui keikutsertaan dalam Saudi Fashion & Tex Expo 2026. Program ini digelar bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda industri tekstil dan garmen dalam beberapa tahun terakhir ternyata tidak selalu berujung pada meningkatnya angka pengangguran. Di balik tekanan yang dihadapi sektor tersebut, justru muncul fenomena baru, yakni lahirnya pelaku industri kecil dan menengah (IKM) dari kalangan mantan buruh pabrik.

Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) mengingatkan meningkatnya peredaran tekstil bermotif batik di pasar domestik berpotensi mengancam keberlangsungan industri batik tradisional. Jika kondisi tersebut tidak segera diatasi melalui pembenahan tata niaga dan edukasi kepada masyarakat, keberadaan batik asli dikhawatirkan akan terus tergerus dalam beberapa tahun ke depan.