Rencana pemerintah menggulirkan berbagai insentif bagi industri tekstil dinilai belum menyentuh persoalan paling mendasar yang dihadapi pelaku usaha. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (Apsyfi), Redma Gita Wirawasta, menegaskan bahwa problem utama industri serat dan benang saat ini bukan terletak pada minimnya insentif, melainkan lemahnya penegakan hukum terhadap praktik persaingan usaha yang tidak sehat di pasar domestik.

Pemerintah tengah menyiapkan pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) baru di sektor tekstil melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia. Langkah ini diambil menyusul pailitnya PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) yang menyebabkan berhentinya kegiatan operasional perusahaan tekstil besar tersebut.

Pemerintah menyatakan masih membuka peluang pemberian tambahan insentif bagi industri tekstil nasional di tengah tekanan yang dihadapi sektor tersebut. Selain menyiapkan pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) tekstil baru, pemerintah menilai skema insentif tetap menjadi opsi penting dalam upaya penyelamatan industri padat karya tersebut.

Pameran Heimtextil 2026 yang berlangsung pada 13–16 Januari 2026 di Frankfurt, Jerman, resmi berakhir dengan hasil yang sangat positif. Pameran ini kembali mencatatkan perannya sebagai acuan penting bagi perkembangan industri tekstil terkait rumah (home textile) dan dunia desain secara global.

Heimtextil 2026 sekali lagi menegaskan posisinya sebagai barometer utama industri tekstil dunia. Melalui pameran ini, pelaku industri dapat melihat arah tren, inovasi, dan perkembangan terbaru yang akan memengaruhi pasar di masa depan.

Rencana pemerintah untuk mengucurkan stimulus besar ke sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) mulai memantik optimisme pasar. Pemerintah tengah mengkaji pendirian badan usaha milik negara (BUMN) baru di bidang tekstil sebagai upaya menjaga keberlanjutan industri yang selama ini menjadi tumpuan hidup jutaan pekerja di Indonesia.