Meningkatnya tekanan terhadap perekonomian nasional dinilai tidak lagi dapat dianggap sebagai gejolak sementara. Majelis Rayon Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Tekstil (KAHMI Tekstil) mengingatkan bahwa berbagai indikator ekonomi menunjukkan sinyal pelemahan yang berpotensi mempercepat deindustrialisasi apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah korektif.
PT Trisula International Tbk. (TRIS) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai maksimal Rp15 miliar sebagai langkah menjaga stabilitas perdagangan saham perseroan di tengah kondisi pasar modal yang masih berfluktuasi.
Perusahaan investasi Trisula Group resmi memperluas portofolio bisnisnya di sektor properti dengan menjadi mitra strategis sekaligus pemegang saham pengembang Easton Urban Kapital. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang kedua perusahaan untuk memperkuat pertumbuhan bisnis melalui tata kelola yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) mengingatkan pemerintah agar mewaspadai penurunan kinerja sektor manufaktur nasional setelah Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke zona kontraksi pada Juni 2026. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa industri mulai menghadapi tekanan yang semakin berat akibat melemahnya daya beli dan meningkatnya biaya produksi.
Industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia tengah menghadapi perubahan besar seiring semakin ketatnya tuntutan pasar global terhadap transparansi dan keberlanjutan. Di satu sisi, sektor ini masih menjadi salah satu penyumbang penting ekspor nasional dengan nilai ekspor produk fesyen mencapai US$6,5 miliar sepanjang Januari hingga September 2025. Di sisi lain, hadirnya kebijakan baru Uni Eropa mengenai Digital Product Passport (DPP) mendorong pelaku industri untuk segera beradaptasi agar tetap mampu bersaing di pasar internasional.
Page 2 of 115