Industri fashion tengah berada dalam dilema besar. Tren gaya hidup "slow fashion" yang sejalan dengan konsep You Only Need One (YONO) mulai menggeser pola konsumsi masyarakat terhadap pakaian. Fenomena ini berpotensi menurunkan permintaan produk sandang nasional, sementara gempuran produk impor dengan skala masif semakin memperlemah daya saing industri tekstil dalam negeri. Jika kondisi ini terus berlanjut, industri padat karya ini bisa mengalami penurunan signifikan, bahkan menghadapi ancaman kebangkrutan.

Indonesia menjalin kerja sama dengan Jerman dalam pengembangan riset industri tekstil berkelanjutan melalui proyek BMBF EnaTex. Kolaborasi ini melibatkan berbagai sektor, termasuk industri dan perguruan tinggi, guna meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi dampak lingkungan.

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) kembali mendesak pemerintah untuk menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib bagi seluruh produk tekstil. Langkah ini dinilai penting guna melindungi industri dalam negeri dan menjadi strategi non-tarif untuk mengatasi defisit neraca perdagangan yang masih terjadi.

Pertumbuhan sektor industri dinilai sebagai faktor penting dalam mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masih menghantui dunia usaha. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azam, menjelaskan bahwa PHK terjadi seiring dengan turunnya volume produksi akibat melemahnya permintaan di masyarakat.

Para pekerja di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) terus dihantui oleh ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) pada tahun ini. Tren PHK yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir masih berlanjut tanpa tanda-tanda perbaikan.