Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih berada dalam kondisi yang terkendali di tengah dinamika global yang memengaruhi harga dan pasokan bahan baku. Meski tekanan dari pasar internasional terus terjadi, sektor TPT dinilai tetap mampu menjaga keberlangsungan produksi melalui berbagai langkah adaptasi dan penguatan koordinasi antar pelaku industri.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Evita Nursanty, menyoroti berbagai persoalan yang masih membebani industri tekstil nasional. Menurutnya, rendahnya daya saing industri tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan tenaga kerja terampil, tetapi juga iklim usaha yang dinilai belum kondusif.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menilai tantangan yang dihadapi industri tekstil nasional tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan tenaga kerja terampil. Menurutnya, masih banyak hambatan struktural yang membuat iklim usaha di sektor industri belum berjalan optimal.
Industri tekstil nasional masih menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan kapasitas produksi hingga banyaknya pabrik yang tutup membuat sektor ini dihantam gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri mulai mencari berbagai cara untuk menekan biaya operasional agar bisnis tetap berjalan.
Jumlah pekerja informal di Jawa Tengah mengalami peningkatan pada Februari 2026 seiring melemahnya sektor industri, khususnya tekstil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah menunjukkan, penduduk yang bekerja di sektor informal mencapai 13,04 juta orang atau sekitar 61 persen dari total 21,38 juta penduduk bekerja di provinsi tersebut. Angka itu naik 0,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 12,65 juta orang.
Page 2 of 166