Ketergantungan ekspor kawasan Ciayumajakuning terhadap pasar Amerika Serikat dinilai mulai menjadi ancaman bagi stabilitas industri regional di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut mendorong perlunya diversifikasi pasar ekspor serta penguatan hilirisasi industri agar pertumbuhan ekonomi kawasan Rebana tetap terjaga secara berkelanjutan.

Kenaikan tarif Pajak Air Tanah (PAT) di sejumlah daerah mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan industri garmen dan tekstil nasional. Pelaku usaha menilai lonjakan tarif yang mencapai 120 hingga 250 persen berpotensi menambah tekanan terhadap sektor padat karya yang saat ini masih menghadapi tantangan perlambatan permintaan global dan tingginya biaya produksi.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih berada dalam kondisi yang terkendali di tengah dinamika global yang memengaruhi harga dan pasokan bahan baku. Meski tekanan dari pasar internasional terus terjadi, sektor TPT dinilai tetap mampu menjaga keberlangsungan produksi melalui berbagai langkah adaptasi dan penguatan koordinasi antar pelaku industri.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Evita Nursanty, menyoroti berbagai persoalan yang masih membebani industri tekstil nasional. Menurutnya, rendahnya daya saing industri tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan tenaga kerja terampil, tetapi juga iklim usaha yang dinilai belum kondusif.

Industri tekstil nasional masih menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan kapasitas produksi hingga banyaknya pabrik yang tutup membuat sektor ini dihantam gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri mulai mencari berbagai cara untuk menekan biaya operasional agar bisnis tetap berjalan.