Industri tekstil global diperkirakan menghasilkan sekitar 92.000 ton polusi serat mikro setiap tahun, dengan sebagian besar di antaranya berakhir mencemari lingkungan. Temuan tersebut diungkap dalam laporan terbaru Earth Action yang menyoroti pentingnya perbaikan menyeluruh pada sistem produksi tekstil dan pengelolaan limbah untuk menekan pencemaran mikroplastik.

Kinerja industri hulu tekstil Indonesia masih menghadapi tekanan sepanjang semester I 2026. Penurunan permintaan dari sektor hilir menyebabkan produksi industri serat dan benang filamen mengalami kontraksi, sementara pasar domestik masih dibayangi tingginya arus produk impor yang terus menekan pangsa pasar industri dalam negeri.

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan kinerja ekspor seiring membaiknya permintaan global dan meningkatnya kebutuhan pasar terhadap produk tekstil yang berkelanjutan. Untuk memanfaatkan momentum tersebut, penguatan daya saing melalui modernisasi industri, penguatan rantai pasok, serta dukungan pembiayaan ekspor dinilai menjadi faktor penting.

Indonesia Eximbank Institute memproyeksikan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia akan tumbuh sebesar 2–3,2 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 3,5–4 persen pada 2027. Proyeksi tersebut didorong oleh mulai pulihnya permintaan global, meningkatnya kebutuhan terhadap produk tekstil berkelanjutan, serta upaya memperkuat daya saing industri nasional.

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan kontribusinya terhadap ekspor nasional seiring mulai pulihnya permintaan global dan meningkatnya kebutuhan pasar terhadap produk tekstil yang berkelanjutan. Momentum tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional melalui peningkatan daya saing, modernisasi industri, serta penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir.